Apa yang Akan Dibahas Donald Trump dan Kim Jong-un Dalam KTT di Vietnam

Senin 25 Februari 2019 13:29 WIB

https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 25 18 2022476 apa-yang-akan-dibahas-donald-trump-dan-kim-jong-un-dalam-ktt-di-vietnam-BwVfKoMPSS.jpeg
Poster Kim Jong Un-Donald Trump dipasang di jendela restoran di Vietnam. Foto/Reuters
HANOI – Vietnam menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kedua antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang akan berlangsung pekan ini dengan pembahasan denuklirisasi Korea Utara dan mengakhiri sanksi terhadap Pyongyang.

Mengutip Reuters, Senin (25/2/2019) berikut hal yang akan dibahas dalam KTT 27-28 Februari di Hanoi.

Apa yang Amerika Inginkan

Denuklirisasi Korea Utara adalah tujuan utama yang ingin dicapai oleh Amerika.

Itu berarti penghapusan semua senjata program pemusnah massal di Korea Utara—produksi senjata-senjata itu, serta rudal balistik antarbenua.

Maksud Tujuan KTT Kedua

Amerika Serikat akan berupaya membentuk kesepahaman bersama dengan Korea Utara tentang apa arti denuklirisasi di KTT itu, kata para pejabat AS, Kamis (21/2/2019).

AS juga diperkirakan akan berupaya untuk membangun proses negosiasi denuklirisasi di luar KTT.

Foto/Reuters

Pembekuan program senjata pemusnah massal dan rudal Korea Utara juga kemungkinan akan menjadi agenda pembahasan. Korea Utara tampaknya telah menghasilkan bahan bakar bom yang cukup dalam setahun terakhir untuk menambah sebanyak tujuh senjata nuklir ke gudang senjatanya, lapor Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional Universitas Stanford awal bulan ini.

Apa yang Korea Utara Inginkan

Korea Utara secara terbuka menyerukan diakhirinya sanksi ekonomi Amerika Serikat dan PBB yang membuat negara itu terpuruk.

Baca: Naik Kereta, Kim Jong Un Menuju Vietnam untuk Bertemu Donald Trump

Baca: Mengapa Vietnam Jadi Tempat Pertemuan Trump-Kim?

Beberapa pejabat di Korea Selatan, Kongres AS telah menyatakan keperihatinan bahwa Korea Utara meminta adanya penarikan pasukan AS di Korea Selatan, tetapi Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa penarikan pasukan AS di Korea Selatan tidak akan dibahas di KTT.

Foto/Reuters

Korea Utara juga telah lama menyerukan perjanjian perdamaian dengan Amerika Serikat untuk menjalin hubungan baik kedua negara dan mengakhiri situasi teknis perang yang telah ada sejak Perang Korea 1950-1953.

Apa yang Akan Ditetapkan

Washington menolak keras menandatangani perjanjian damai sebelum Korea Utara benar-benar melakukan denuklirisasi, tetapi para pejabat AS telah mengisyaratkan mereka mungkin bersedia untuk menandatangani perjanjian untuk mengurangi ketegangan, membuka kantor perwakilan, dan membangun hubungan yang lebih baik.

Kim mengatakan pada bulan Januari bahwa Korea Utara “siap membuka kembali kawasan industri Kaesong dan wisata ke Gunung Kumgang tanpa prasyarat,”. Namun kedua proyek tersebut membutuhkan pelonggaran sanksi dari AS.

Kim juga mengatakan Korea Utara mencari tindakan yang praktis sesuai cara Amerika agar denuklirisasi dapat selesai di Semenanjung Korea.

Salah satu tindakan yang dituntut Korea Utara adalah Amerika menarik kebijakannya yang dianggap merugikan Korea utara dan mencabut saknsi, lapor kantor berita Korea Utara, KCNA pada Akhir Desember 2018.

Sumber : okenews

Isu AHY Pimpin PD, Golkar: Tren Global Anak Muda Jadi Pemimpin Politik

Selasa 26 Februari 2019, 11:51 WIB
Isu AHY Pimpin PD, Golkar: Tren Global Anak Muda Jadi Pemimpin Politik
Foto: Meutya Hafid (Tsarina-detikcom).

Jakarta – Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kian banyak disebut akan memimpin Partai Demokrat (PD) menggantikan sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Partai Golkar memberikan dukungan bila AHY bisa memimpin partai berlambang Mercy itu.

“Wah kalau kabar tersebut benar, menurut saya baik sekali. Artinya ada regenerasi kepemimpinan di tubuh partai-partai politik,” kata politikus Golkar Meutya Hafid kepada wartawan, Selasa (26/2/2019). Menurut Meutya, tren global saat ini memang menunjukkan anak muda memimpin dalam politik. Ia menilai, AHY juga sudah siap bila memang pada akhirnya memimpin Demokrat.

“Selain memang tren global pun menunjukkan anak muda memimpin dalam politik, juga karena secara pribadi saya kenal Mas Agus, dia pintar, pekerja keras, banyak dan mau mendengar, dan yang juga penting santun, sangat menghormati senior,” kata Meutya.

“Terkait kepemimpinan anak muda saya dan mas Agus juga pernah diskusi di sela-sela kampanye yang kebetulan Golkar dan Demokrat hadir bersama. Sepertinya memang Mas Agus punya kesiapan itu,” sambung anggota Komisi I DPR.

Meski mendukung AHY menjadi pimpinan Demokrat, Meutya berharap pergantian tetap melalui aturan partai yang berlaku. Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin ini mengingatkan agar AHY mendapat restu dari seluruh kader PD bila pada akhirnya menjadi ketum.

“Pesan saya, tentu jika benar ada pergantian maka tetap mengikuti proses demokrasi di Partai Demokrat. Kita ingin anak muda maju namun tetap berdasar pada mekanisme demokrasi, artinya beliau harus betul-betul didukung oleh internal Demokrat,” tutur Meutya.

Isu AHY mengambil alih takhta ketua umum partai lantaran SBY berfokus menjaga istrinya, Ani Yudhoyono, yang tengah dirawat di Singapura. PD sudah membenarkan soal adanya kemungkinan pergantian ketum.

“Menghadapi Pileg ini, PD butuh energi ekstra untuk kampanye dan menyapa rakyat. Pak SBY sangat tidak mungkin karena Ibu Ani sedang membutuhkan kedekatan Pak SBY,” ungkap Ketua DPP PD Didik Mukrianto saat dimintai konfirmasi.

Wasekjen PD Putu Supadma Rudana mengatakan AHY akan menyampaikan orasi politik pekan depan. Putu menyebut orasi AHY akan diawali dengan kegiatan di kantor DPP PD, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. AHY, kata Putu, akan mendapat mandat mengawal PD di Pileg 2019.

“Kita tunggu orasi politik AHY pada tanggal 1 Maret 2019 di Jakarta Theater,” kata Putu.

 

Sumber : detiknews